@indra_ps

menertawakan kebodohan kita sendiri seru juga ternyata...

SUMPAH DOKTER

Demi Allah, saya bersumpah bahwa :

Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan;

Saya akan memberikan kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya;

Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang berhormat dan bermoral tinggi, sesuai dengan martabat pekerjaan saya;

Kesehatan penderita senantiasa akan saya utamakan;

Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter;

Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran;

Saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagai mana saya sendiri ingin diperlakukan;

Dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita, saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, politik kepartaian, atau kedudukan sosial;

Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan;

Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan kedokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan;

Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatan diri saya.

udah gede jadi kayak gini

udah gede jadi kayak gini

siapa coba?

siapa coba?

Lama2 org males romantis karena disebut galau.
Males peduli takut disebut kepo.
Males detil takut dibilang rempong
@sudjiwotedjo
Jika keadaan di sekeliling kita tampak gelap gulita, curigalah kita ini yang dikirim untuk menjadi cahaya Ust. Salim A. Fillah
Bukan cantik yang bikin cinta, tapi cinta yang bikin cantik Hal pertama yg terlintas ketika bangun tidur -_-“

Belajar Agama seperti belajar kedokteran

aneh memang kenapa saya memunculkan topik ini. tapi justru selama ini ada banyak kesamaan antara prinsip belajar kedokteran dengan prinsip belajar Islam. saya lebih cenderung memakai analogi kedokteran untuk menjelaskan tentang Islam dan bukan sebaliknya karena saya belum mempelajari secara formal tentang Islam ini.

Jadi bahasan pertama adalah hal ghaib. kita tentu tidak bisa membayangkan wujud ALLAH, malaikat, takdir, Rasul, dll. tapi kita hanya bisa mengimani atau memercayainya. kita meyakini bahwa zat tersebut ada walaupun kita tidak bisa melihatnya, dan kita hanya bisa merasakan keberadaannya tanpa harus melihat wujudnya. ya mengimani wujud ALLAH dan makhluk ghaib itu layaknya kita memercayai sistem imun dalam tubuh kita. tentu kita tidak bisa melihat bagaimana bentuk CD4, limfosit T-helper, sel mast, histamin dan sebagainya, tapi apakah kita mengingkarinya?? tentu tidak, meskipun kita tidak bisa melihat bentuknya tetapi kita dapat merasakan manfaatnya. begitu juga dengan hal ghaib yang ALLAH ciptakan, kita tidak dapat melihat malaikat, Rasul, bahkan ALLAH sendiri, tetapi kita tidak mengingkarinya karena kita merasakan manfaatnya.

lalu bagaimana kita bisa memercayai bahwa itu ada?? ya, kita mempelajari hal tersebut dari banyak sumber seperti textbook, lecture para dosen, diskusi dengan teman dan sebagainya, semakin banyak kita mempelajari maka semakin paham kita tentang sistem imun dan semakin kita percaya bahwa hal tersebut ada. begitu juga dengan Islam, semakin kita banyak membaca Al-Quran, buku-buku, mendengar penjelasan Ustadz, atau diskusi dengan teman maka pemahaman kita tentang Islam pun akan meningkat, dan seiring meningkatnya pemahaman kita maka kita akan semakin kuat Imannya.

Doa

“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.” (HR. Muslim no. 4912)

..Dan doaku kali ini adalah semoga ALLAH memudahkan, memberikan kelancaran, memberikan ketenangan, serta memberikan hasil terbaik kepada teman sejawat di seluruh Indonesia yang akan UKDI besok..

Pilihan Karir/Kerja

karir dan pekerjaan

seluruh rangkaian pendidikan dokter umum telah diselesaikan, tinggal melewati 1 hadangan lagi yaitu UKDI (Ujian Kompetensi dokter Indonesia). setelah itu kewajiban saya adalah internship daaannn…. bingung mau ngapain.

tapi ada beberapa pilihan untuk saya tempuh setelah lulus semua rangkaian pendidikan ini:

1. internship -> buka klinik di daerah

+ motivasinya adalah Indonesia saat ini masih kekurangan tenaga dokter. Perbandingan ideal antara dokter:penduduk adalah 1:2500. artinya dengan jumlah penduduk Indonesia mencapai 230.000.000 perlu ada sekitar *brb ngitung dulu* 92000 dokter dengan jumlah merata di seluruh Indonesia. artinya pemerintah membuka kesempatan selebar2nya kepada pemuda Indonesia untuk menjadi dokter dengan alasan untuk mencukupi kebutuhan dokter dan pemerataan tenaga kesehatan di Indonesia. permasalahannya banyak temen2 yang udah beres dokter pengennya kerja di kota aja, kalau hal ini terjadi maka masalah jumlah terselesaikan, namun masalah pemerataan belum. malah mungkin bakal muncul masalah baru yaitu sesaknya dokter di kota besar.

+ motivasi lainnya adalah berkontribusi langsung dan berinteraksi dengan masyarakat. setiap mendengar ucapan “terima kasih” disertai senyum tulus dari pasien yang kita tangani itu rasanya menyejukkan.

- hambatannya adalah modal yang lumayan gede untuk bikin sebuah klinik dengan persyaratan minimum.

2. internship -> daftar PNS (pejabat struktural)

+ motivasinya adalah mungkin dari media terlihat bahwa para pejabat pengurus negeri ini kurang memiliki kemampuan dan attitude yang baik sehingga kebijakan-kebijakan yang dibuat tidak menyejahterakan rakyat sehingga banyak ditentang oleh rakyat. oleh karena itu, melihat kondisi yang carut marut ini bukan berarti kita diam atau malah menjauh, seharusnya mendekati dan mengambil alih tugas itu sehingga negara ini bisa dijalankan dengan idealisme kita.

+ kemampuan dan passion dalam berorganisasi akan membuat pekerjaan menjadi lebih ringan kedepannya

+ saya percaya dengan menjadi pejabat publik maka tanggung jawab besar ada di pundak kita. kalau menjadi dokter praktik, sekali kita membuat keputusan maka efek keputusan kita hanya dirasakan oleh 1 pasien kita ya maksimal 1 keluarganya lah yang ngerasain efeknya. tapi kalau jadi pejabat publik, sekali kita membuat keputusan maka keputusan kita akan terasa efeknya oleh 1 wilayah, 1 propinsi, atau bahkan 1 negara.

3. internship -> hunting beasiswa belajar S2/S3 di luar negeri -> akademisi/kerja di WHO

+ ada hadits menyebutkan bahwa “barang siapa yang bersungguh-sungguh mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya menggapai Surga”.

+ belajar mengenai ilmu kedokteran lebih dalam lagi dapat menjadi kebanggaan diri dan keluarga. juga kita bisa berguna menjadi akademisi atau peneliti yang akan mempertahankan dan mengembangkan ilmu kedokteran ini kedepannya.

- semakin lama sekolah maka semakin lama kita berkontribusi untuk masyarakat

4. internship -> kerja/praktik di klinik/RS -> sekolah spesialis

+ jalur mainstream, kerja jelas, masa depan terjamin.

- semakin spesialistis maka semakin peran kita di masyarakat. di Indonesia, 85% itu orang sehat, sisanya orang sakit, dari orang sakit ini yang membutuhkan jasa medis spesialis tertentu jumlahnya lebih sedikit lagi.

5. internship -> lepas gelar dokter -> bisnis/wirausaha/investor

+ ini adalah jalur paling ekstrim karena udah sekolah hampir 7 tahun tapi tidak ada gunanya. tapi jalur ini lebih aman karena tidak harus berhadapan dengan dunia kedokteran yang semakin lama semakin banyak tuntutan, baik dari pasien, kolega, kolegium profesi, bahkan negara.

+ ada hadits mengatakan bahwa ” 9 dari 10 pintu rejeki berasal dari perniagaan”.

+akan sangat menyenangkan jika usaha yang dijalankan sesuai passion

- kontribusi masyarakat minim karena orientasinya adalah keuntungan pribadi.

well, saya sendiri masih bingung mana yang harus saya pilih.

Nyari jodoh tuh mungkin kayak ujian compre, setiap tahap belum tentu lancar tapi pasti berakhir bahagia Meracau